4 Februari 2010
"Angsa-angsa Ketapang" akan segera terbit!
"Angsa-angsa Ketapang",
kumpulan puisi Bernard Batubara (benz) akan segera terbit.
Untuk pra-pemesanan sila lewat komentar di blog ini (comment atau chatbox), Yahoo! Messenger (be_rock9789), Facebook (Bernard Batubara), Twitter (@bernardbatubara), dengan menyertakan nama, alamat lengkap, dan no. handphone.
atau e-mail ke omah_sore@yahoo.com. Terima kasih. :)
kumpulan puisi Bernard Batubara (benz) akan segera terbit.
Untuk pra-pemesanan sila lewat komentar di blog ini (comment atau chatbox), Yahoo! Messenger (be_rock9789), Facebook (Bernard Batubara), Twitter (@bernardbatubara), dengan menyertakan nama, alamat lengkap, dan no. handphone.
atau e-mail ke omah_sore@yahoo.com. Terima kasih. :)
tags :
publish
25 Januari 2010
25 Baris Januari
25 Baris Januari
: seorang wanita
januari, masihkah kau kini menenun sapu lidi
dari bening benang embun yang kian layu dan pasi
sebab pagi kali ini datang terlalu dini
dan aku tak mendengar lagi suara sapu lidi
januari, kau tak pernah selesai dan aku belum juga memulai
perjalanan kaki mencari kaki, perjuangan hati meniti hati
fajar melepas selimut, bangun dengan muka masai
mengambil kabut, menjemput gelap, mengelap rantai
aku masih menunggu malaikat maut datang dengan damai
januari, kau gelisah mendaraskan doa tak hendak berhenti
januari, waktu hanya drama tempat seluruh sandiwara beraksi
aku bukan aktor, kau bukan aktris, kita tak bakat berkomedi
januari, pagi kian dekat ke pergi
dan kering masih mengintai dasar perigi
apakah sudah habis rontok rambutmu yang lama lepai
aku belum siap menadah, aku masih enggan melambai
januari, pasti hidungmu terasa lengar habis menghirup air kali
sebab ke sana air bekas mandiku mengalir, menghanyutkan diri
tapi jangan kau dan sangit air itu hendak bercerai
dua anakmu (satu di surga) tak mau jadi pelerai
januari, ini serangkai doa bukan untuk menebus diri
manalah bisa ujung jalan dicari, hanya pucuk galah disigi
tapi sambut dan dekaplah, aku hendak menghempaskan diri
dan biar aku bertanya kepadamu sebaris saja dalam puisi ini
kalau aku pergi, apakah kau akan menyuruhku kembali?
: seorang wanita
januari, masihkah kau kini menenun sapu lidi
dari bening benang embun yang kian layu dan pasi
sebab pagi kali ini datang terlalu dini
dan aku tak mendengar lagi suara sapu lidi
januari, kau tak pernah selesai dan aku belum juga memulai
perjalanan kaki mencari kaki, perjuangan hati meniti hati
fajar melepas selimut, bangun dengan muka masai
mengambil kabut, menjemput gelap, mengelap rantai
aku masih menunggu malaikat maut datang dengan damai
januari, kau gelisah mendaraskan doa tak hendak berhenti
januari, waktu hanya drama tempat seluruh sandiwara beraksi
aku bukan aktor, kau bukan aktris, kita tak bakat berkomedi
januari, pagi kian dekat ke pergi
dan kering masih mengintai dasar perigi
apakah sudah habis rontok rambutmu yang lama lepai
aku belum siap menadah, aku masih enggan melambai
januari, pasti hidungmu terasa lengar habis menghirup air kali
sebab ke sana air bekas mandiku mengalir, menghanyutkan diri
tapi jangan kau dan sangit air itu hendak bercerai
dua anakmu (satu di surga) tak mau jadi pelerai
januari, ini serangkai doa bukan untuk menebus diri
manalah bisa ujung jalan dicari, hanya pucuk galah disigi
tapi sambut dan dekaplah, aku hendak menghempaskan diri
dan biar aku bertanya kepadamu sebaris saja dalam puisi ini
kalau aku pergi, apakah kau akan menyuruhku kembali?
tags :
sajak
24 Januari 2010
Sebuah Band dan Sejumlah Personil yang Tidak Tepat
Sebuah Band dan Sejumlah Personil yang Tidak Tepat
1. Penjaga Kasir
aku melihat angka-angka, tapi hanya ada dua macam angka
angka berwarna putih dan angka berwarna hitam di antaranya
mana yang harus kutekan untuk menjumlahkan harga
sebotol nyawa, dua butir obat tidur, dan sebungkus roti
belanjaan milik Tuan Pencabut Nyawa ini?
tapi angka berwarna putih ini jumlahnya banyak sekali
begitu pula dengan angka berwarna hitam, bisakah
aku menekannya bersamaan saja, sebab tiba-tiba
mesin kasir ini mengeluarkan suara yang begitu merdu
di telinga, dan tiba-tiba Tuan Pencabut Nyawa itu
mengembalikan semua belanjaannya dan pergi
berlalu, sambil menggumam
seperti menyanyikan sebuah lagu
2. Penenun Kain
sepertinya aku tak bisa membuat kain dari benang-benang
keras dan kasar seperti ini, lagipula kalaupun aku bisa
siapa yang mau dan mampu menjahitnya menjadi baju?
siapa pula yang mau membeli dan mengenakannya?
ah, aku hanya penenun, tak perlu memusingkan hal itu
baiknya kujalin saja enam helai benang
yang suka berbunyi sendiri ini
siapa tahu ada peri baik hati yang datang
dan sudi mengenakannya dengan senang hati
3. Pemecah Batu
aku perlu palu, bukan tongkat bertubuh pendek seperti kurcaci
bagaimana aku bisa bekerja, kalau alat pemukulku tak ada
dan kenapa pula batu-batu ini bersuara
kenapa mereka seolah marah kepadaku
aku hanya memisahkan mereka dari ibu dan bapaknya
agar mereka hidup sendiri dan sanggup hidup mandiri
aku hanya membuat keluarga mereka jadi lebih ramai
agar aku tak lagi merasa sepi dan menangis seorang diri
4. Pembaca Berita
mana teks berjalan itu, mana suara
yang biasa membisik di telingaku
aku tak hapal dengan kalimat yang harus kuucapkan
aku tak bisa membuat kabar kematian jadi terdengar
tak begitu menyedihkan
aku tak mengerti irama suara yang tepat
untuk menyampaikan kata-kata ini
aku tak tahu bagaimana cara bersuara
di depan Penonton Yang Maha Esa itu!
1. Penjaga Kasir
aku melihat angka-angka, tapi hanya ada dua macam angka
angka berwarna putih dan angka berwarna hitam di antaranya
mana yang harus kutekan untuk menjumlahkan harga
sebotol nyawa, dua butir obat tidur, dan sebungkus roti
belanjaan milik Tuan Pencabut Nyawa ini?
tapi angka berwarna putih ini jumlahnya banyak sekali
begitu pula dengan angka berwarna hitam, bisakah
aku menekannya bersamaan saja, sebab tiba-tiba
mesin kasir ini mengeluarkan suara yang begitu merdu
di telinga, dan tiba-tiba Tuan Pencabut Nyawa itu
mengembalikan semua belanjaannya dan pergi
berlalu, sambil menggumam
seperti menyanyikan sebuah lagu
2. Penenun Kain
sepertinya aku tak bisa membuat kain dari benang-benang
keras dan kasar seperti ini, lagipula kalaupun aku bisa
siapa yang mau dan mampu menjahitnya menjadi baju?
siapa pula yang mau membeli dan mengenakannya?
ah, aku hanya penenun, tak perlu memusingkan hal itu
baiknya kujalin saja enam helai benang
yang suka berbunyi sendiri ini
siapa tahu ada peri baik hati yang datang
dan sudi mengenakannya dengan senang hati
3. Pemecah Batu
aku perlu palu, bukan tongkat bertubuh pendek seperti kurcaci
bagaimana aku bisa bekerja, kalau alat pemukulku tak ada
dan kenapa pula batu-batu ini bersuara
kenapa mereka seolah marah kepadaku
aku hanya memisahkan mereka dari ibu dan bapaknya
agar mereka hidup sendiri dan sanggup hidup mandiri
aku hanya membuat keluarga mereka jadi lebih ramai
agar aku tak lagi merasa sepi dan menangis seorang diri
4. Pembaca Berita
mana teks berjalan itu, mana suara
yang biasa membisik di telingaku
aku tak hapal dengan kalimat yang harus kuucapkan
aku tak bisa membuat kabar kematian jadi terdengar
tak begitu menyedihkan
aku tak mengerti irama suara yang tepat
untuk menyampaikan kata-kata ini
aku tak tahu bagaimana cara bersuara
di depan Penonton Yang Maha Esa itu!
tags :
sajak
Sajak-sajak saya di Suara Merdeka lagi
Seorang kawan sekaligus rekan, Yasir Alkaf mengabarkan saya lewat situs jejaring sosial Twitter bahwa Suara Merdeka edisi Minggu, 24 Januari 2010 memuat sajak-sajak saya: Sajak Daur Ulang: Kami, Sajak Daur Ulang: Bibirmu Berkarat di Bibirku, Dua Sajak yang Kutulis Setelah Mengunjungi Dua Pantai, dan Sadar.
tags :
publish
23 Januari 2010
Selembar Koran dan Sejumlah Kolom yang Berebut Tempat
Selembar Koran dan Sejumlah Kolom yang Berebut Tempat
1. Halaman Depan dan Pengosongan Lahan
aku ini Tajuk Utama, harusnya tempatku di halaman muka
dengan ukuran huruf judul yang paling besar dan super tebal
kenapa malah aku dibuang ke halaman belakang, berhimpitan
dengan kolom-kolom iklan yang sudah tua dan kian usang
dan ukuran ini, ah, ini hanya muat untuk ujung hidung belangku saja
2. Dokter Cinta dan Curhat Colongan
harusnya kolom Konsultasi & Psikologi dipindah ke halaman depan agar
kolom-kolom setengah gila atau sepenuhnya gila itu tidak perlu jauh-jauh
pergi ke rumah sakit jiwa, cukup dengan membacaku
mereka bisa menyembuhkan penyakit gilanya sendiri
kau tahu, koran ini sudah semakin gila, bahkan gila sendiri
sekarang sudah mulai gila karena terlalu lama ia tinggal
dalam selembar koran gila ini!
3. Tukang Gali Kubur dan Pembuat Batu Nisan
aku sebenarnya tak begitu meributkan perihal tempat
tapi aku cukup letih juga berganti rupa berulang kali
kadang aku berukuran kecil tapi banyak sekali, di sana-sini
kadang hanya sebuah tapi menghabiskan sehalaman penuh
padahal Kematian dan Duka Cita tak pernah berubah
selalu memiliki wujud dan wajah yang itu-itu juga
tak bisakah dibuatkan tempat khusus saja untukku agar
aku tak perlu mencabut dan menancapkan lagi nisan
berulang-ulang di selembar koran dan kuburan yang sama?
1. Halaman Depan dan Pengosongan Lahan
aku ini Tajuk Utama, harusnya tempatku di halaman muka
dengan ukuran huruf judul yang paling besar dan super tebal
kenapa malah aku dibuang ke halaman belakang, berhimpitan
dengan kolom-kolom iklan yang sudah tua dan kian usang
dan ukuran ini, ah, ini hanya muat untuk ujung hidung belangku saja
2. Dokter Cinta dan Curhat Colongan
harusnya kolom Konsultasi & Psikologi dipindah ke halaman depan agar
kolom-kolom setengah gila atau sepenuhnya gila itu tidak perlu jauh-jauh
pergi ke rumah sakit jiwa, cukup dengan membacaku
mereka bisa menyembuhkan penyakit gilanya sendiri
kau tahu, koran ini sudah semakin gila, bahkan gila sendiri
sekarang sudah mulai gila karena terlalu lama ia tinggal
dalam selembar koran gila ini!
3. Tukang Gali Kubur dan Pembuat Batu Nisan
aku sebenarnya tak begitu meributkan perihal tempat
tapi aku cukup letih juga berganti rupa berulang kali
kadang aku berukuran kecil tapi banyak sekali, di sana-sini
kadang hanya sebuah tapi menghabiskan sehalaman penuh
padahal Kematian dan Duka Cita tak pernah berubah
selalu memiliki wujud dan wajah yang itu-itu juga
tak bisakah dibuatkan tempat khusus saja untukku agar
aku tak perlu mencabut dan menancapkan lagi nisan
berulang-ulang di selembar koran dan kuburan yang sama?
tags :
sajak
Mengapa dalam Sajak Ini Ada Sebotol Tinta yang Tak Ingin Dirinya Dicium Sebatang Pena untuk Menulis Sebuah Kata Cinta
Mengapa dalam Sajak Ini Ada Sebotol Tinta yang Tak Ingin Dirinya Dicium Sebatang Pena untuk Menulis Sebuah Kata Cinta
aku harus menulis kalimat penutup dalam surat ini
setelah berpanjang lebar, berpuluh halaman habis
bagian terakhir inilah yang menentukan hidup-mati
hubunganku dengan dia, sejak bertahun-tahun lama
aku tahu dalam beribu baris sebelumnya
sudah kuutarakan perasaanku kepada dia
aku sudah menciummu berkali-kali hari ini
tapi kenapa sekarang kau tiba-tiba memalingkan muka
dan tak mengizinkanku menulis sebuah pun kata cinta?
aku harus menulis kalimat penutup dalam surat ini
setelah berpanjang lebar, berpuluh halaman habis
bagian terakhir inilah yang menentukan hidup-mati
hubunganku dengan dia, sejak bertahun-tahun lama
aku tahu dalam beribu baris sebelumnya
sudah kuutarakan perasaanku kepada dia
aku sudah menciummu berkali-kali hari ini
tapi kenapa sekarang kau tiba-tiba memalingkan muka
dan tak mengizinkanku menulis sebuah pun kata cinta?
tags :
sajak
22 Januari 2010
Mengapa dalam Sajak Ini Ada Setetes Airmata yang Bingung Harus Lahir dan Mengalir dari Sebelah Mata yang Mana
Mengapa dalam Sajak Ini Ada Setetes Airmata yang Bingung Harus Lahir dan Mengalir dari Sebelah Mata yang Mana
mungkinkah aku dapat berangkat dari tubuh kalian berdua
sebab aku tak mungkin bisa membelah tubuhku menjadi dua
aku ingin pergi, sudah waktunya, tapi bagaimana bisa
aku menyerahkan pelukanku untukmu dan memberikan
ciumanku untuknya
sungguh, meski aku tahu akan mati dan berakhir di sudut bibir yang itu juga
kali ini aku tak tahu harus lahir dan mengalir dari sebelah mata yang mana
mungkinkah aku dapat berangkat dari tubuh kalian berdua
sebab aku tak mungkin bisa membelah tubuhku menjadi dua
aku ingin pergi, sudah waktunya, tapi bagaimana bisa
aku menyerahkan pelukanku untukmu dan memberikan
ciumanku untuknya
sungguh, meski aku tahu akan mati dan berakhir di sudut bibir yang itu juga
kali ini aku tak tahu harus lahir dan mengalir dari sebelah mata yang mana
tags :
sajak
Mengapa Dalam Sajak Ini Ada Sebatang Lilin yang Tak Ingin Seutas Sumbu dalam Tubuhnya Terbakar Api
Mengapa Dalam Sajak Ini Ada Sebatang Lilin yang Tak Ingin Seutas Sumbu dalam Tubuhnya Terbakar Api
bagaimana kita bisa menerangi ruangan kecil dan gelap ini
kalau kau tak membiarkan api itu mendekat dan memelukku
kau itu sebatang lilin, tempat aku tegak berdiri
aku ini seutas sumbu, tak perlu lagi kau lindungi
memang takdirku untuk hidup dan habis terbakar
sedang kau semata saksi dalam ritual sunyi ini
tapi kalau kau bersikeras menepis malam yang kalut
atau mengusir dingin angin dan kelebat kabut
biarlah aku saja yang habis terbakar api
tak perlu kau jemput, tak perlu kau ikut
bagaimana kita bisa menerangi ruangan kecil dan gelap ini
kalau kau tak membiarkan api itu mendekat dan memelukku
kau itu sebatang lilin, tempat aku tegak berdiri
aku ini seutas sumbu, tak perlu lagi kau lindungi
memang takdirku untuk hidup dan habis terbakar
sedang kau semata saksi dalam ritual sunyi ini
tapi kalau kau bersikeras menepis malam yang kalut
atau mengusir dingin angin dan kelebat kabut
biarlah aku saja yang habis terbakar api
tak perlu kau jemput, tak perlu kau ikut
tags :
sajak
21 Januari 2010
Haruskah Sajak Ini Kuberi Nama Selembar Surat yang Mencintai Amplop Lain atau Selembar Amplop yang Mencintai Surat Lain
Haruskah Sajak Ini Kuberi Nama Selembar Surat yang Mencintai Amplop Lain atau Selembar Amplop yang Mencintai Surat Lain
kenapa aku merasa kata-kata dalam tubuhmu
tak menghendaki diriku sebagai penjagamu lagi
setiap aku memelukmu, mereka semua
tiba-tiba berlepasan dari baris-barisnya
kenapa aku merasa hangat bibir dan lebar pundakmu
tak erat lagi mendekap gigil gigi dan rapuh tubuhku
setiap aku menghambur kepadamu, kau
tak menyambutku dan melepas lipatan saja
kenapa aku merasa kata-kata dalam tubuhmu
tak menghendaki diriku sebagai penjagamu lagi
setiap aku memelukmu, mereka semua
tiba-tiba berlepasan dari baris-barisnya
kenapa aku merasa hangat bibir dan lebar pundakmu
tak erat lagi mendekap gigil gigi dan rapuh tubuhku
setiap aku menghambur kepadamu, kau
tak menyambutku dan melepas lipatan saja
tags :
sajak
Haruskah Sajak Ini Kuberi Nama Selembar Surat yang Ingin Merobek Dirinya Sendiri
Haruskah Sajak Ini Kuberi Nama Selembar Surat yang Ingin Merobek Dirinya Sendiri
: nadia chairunnisa
kau tahu, aku ingin sekali merobek diriku sendiri
sebelum sempat kau membaca pesan di tubuhku ini
aku ingin meminum minuman yang sedang kau minum
aku ingin mabuk semabuk-mabuknya sampai aku lupa
bahwa aku adalah selembar surat yang membawa pesan cinta
yang tak pernah sempat sekalipun kau buka dan kau baca
aku ingin pesan di tubuhku tak lagi pernah akan sampai ke dirimu
sebab kau tahu, aku ingin sekali merobek diriku sendiri hanya di depanmu
: nadia chairunnisa
kau tahu, aku ingin sekali merobek diriku sendiri
sebelum sempat kau membaca pesan di tubuhku ini
aku ingin meminum minuman yang sedang kau minum
aku ingin mabuk semabuk-mabuknya sampai aku lupa
bahwa aku adalah selembar surat yang membawa pesan cinta
yang tak pernah sempat sekalipun kau buka dan kau baca
aku ingin pesan di tubuhku tak lagi pernah akan sampai ke dirimu
sebab kau tahu, aku ingin sekali merobek diriku sendiri hanya di depanmu
Langgan:
Entri (Atom)





