15 November 2009

Dua Sajak yang Kutulis Setelah Mengunjungi Dua Pantai

Di Pantai Siung

seperti alis untuk sepasang mata hitam milik seseorang

di Pantai Siung, ada dua sisi karang melengkung ke dalam
seperti senyum seperti pelukan dahulu terkikis dari benak

tapi dihantam berkali-kali oleh ombak panjang dan garang

ahai, berdiri di tengah-tengah rentang hampar pasir ini
sungguh jantungku ingin terbang, lalu jatuh tergeletak

agar disambut oleh buih laut, dan hanyut saja perlahan
menyaksikan bening air, liuk rumput laut dan bebatuan

tapi ada yang memanggil-manggil dari kejauhan dari ujung

seperti memanggil pulang seperti menolak suatu kenang
di Pantai Siung, ada butir pasir yang tak sekalipun larung

seperti bintik air di sepasang mata hitam milik seseorang




.



Di Pantai Sadranan

luka tak pernah sekalipun senja, tak pernah seperti langit
di Pantai Sadranan kali ini, aku duduk saja mematung

di pondokan bambu beratap daun rumbia, aku melihatmu
melambai melayang-layang di atas laut yang kadang biru

namun seringkali jadi hijau di mataku, hanya di mataku

luka tak pernah sekalipun senja, tak pernah seperti pasir
di Pantai Sadranan, itu sebabnya aku duduk saja di sini

di pondokan bambu bertuliskan nama-nama, tak berani
turun dan menginjakkan kaki, menghampiri halus lembut

sebentang bak tikar panjang tempat biasa kau datang

tapi bukan di sore seperti ini, saat ombaknya tak lagi
menjilat, tak lagi ada hasrat untuk mengecup bibirmu

hanya menyenggol pulau-pulau kecil dan batu karang
hanya menunggu aku turun dan kau turun di tepian

di Pantai Sadranan, bukan aku yang tersedu kepada
merah langit di kejauhan, hanya saja kau selalu ada

sebab luka tak pernah sekalipun senja, tak pernah
seperti lembut pipimu dari jauh kau letak di bibirku

28 Oktober 2009

Payet

Payet

aku melihat kau sebagai kilau melekat di atas kain bercorak batik
kau melihatku sebagai wajah penjajah bermata tiga

aku mengendusmu dan mencium aroma rempah buah pala dan cengkeh
kau membauiku seperti anjing penjaga yang selalu curiga

aku membayangkan pulau hijau bersungai panjang bak firdaus
kau lalu memantulkan gambar hutan terbakar dan tanah tandus

aku mencatat rencana-rencana besar
kau melempariku selembar kertas hitam dan pena hitam

aku merekam cahayamu
dalam kekaguman

kau seketika berdarah
pelan-pelan

12 Oktober 2009

Sadar

Sadar

harus ada yang terperangkap dalam setiap rencana karena waktu bukan sabun pakaian atau pasta gigi bukan deodoran atau parfum yang terus menyamarkan kerak-kerak di lekuk tubuh karena waktu bukan tempat sampah bukan kakus bukan gudang barang-barang bekas dan usang maka harus ada yang tercatat dalam setiap renungan sebab aku bukan sabun bukan deodoran bukan tempat sampah bukan gudang belaka harus ada yang tertulis oleh puisi karena aku hanya jeda hanya tanda bukan waktu bukan pula Dirimu

3 Oktober 2009

Saya dan Puisi Saya dalam Sebuah Buku - "Pedas Lada Pasir Kuarsa" : Antologi Puisi Temu Sastrawan Indonesia II - Bangka Belitung


"Pedas Lada Pasir Kuarsa" : Antologi Puisi Temu Sastrawan Indonesia II - Babel



Kalau saya tidak iseng-iseng googling malam ini, mungkin saya tidak akan pernah tahu bahwa saya (dan sajak saya) telah masuk ke dalam sebuah buku antologi puisi. Buku tersebut berjudul Pedas Lada Pasir Kuarsa: Antologi Puisi Temu Sastrawan Indonesia II - Babel.

Memang beberapa bulan yang lalu ada sebaran informasi yang memberitahukan tentang rencana pembuatan antologi itu, dan saya juga mengirim beberapa sajak saya ke sana untuk kemudian diseleksi dan (jika lolos) diikutsertakan dalam buku antologi itu. Tapi itu sudah cukup lama dan saya belum lagi, bahkan hampir lupa dengan antologi puisi TSI II - Babel itu karena tidak mendapatkan informasi lebih lanjut.

Tapi ternyata ketika barusan saya iseng-iseng googling, saya ketemu link ini:


http://aliansisastrawanaceh.wordpress.com/2009/08/11/pedas-lada-pasir-kuarsa-antologi-puisi-temu-sastrawan-indonesia-ii-babel/


Editor : Raudal Tanjung Banua – Sunlie Thomas Alexander – Indrian Koto

Desain Cover : Sunlie Thomas Alexander

Gambar Cover : Acep Zamzam Noor

Ilustrasi : Agustinus Wahyono [Gus Onoy]

Edisi I : juli, 2009

ISBN : 978-602-95266-0-8

Penerbit : Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Kepulauan Bangka – Belitung

PARA PENULIS :

Koko P.Bhairawa

Hardho Sayoko

Acep Syahril

Acep Zamzam Noor

Ahmad Kekal Hamdani

Ali Syamsuddin Arsi

Ari Pahala Hutabarat

Ariffin Noor Hasby

Budhi Setyawan

D.Kemalawati

Dian Hardiana

Dian Hartati

Doel CP Allisah

Eko Putra

Esha Tegar Putra

Firdaus

Fitri Yani

Hariyanto Prasetyo

Heri Maja Kelana

Hudan Nur

Isbedy Stiawan ZS

Kedung Darma Romansha

LK.Ara

Marhalim Zaini

Mutia Sukma

Nersalya Renata

Ni Made Frischa Aswarini

Nurhayat Arif Permana

Reina Caesilia

Ichsan Mokoginta Dasin

Sudarni

Toto ST Radik

Fitra Yanti

Y.Thendra BP

Sindu Putra

Hasan Aspahani

Jajang R.Kawentar

Syaifuddin Gani

Willy Siswanto

Hajriansyah

Fikar W.Eda

Adin

M,Aan Mansyur

Bode Riswandi

Saad Toyib

Mustafa Ismail

Iif Ranupane

Irman Syah

Nur Wahida Idris

Faisal Kamandobat

As’adi Muhammad

Riki Dhamparan Putra

Ragil Supriyanto Samid

Irianto Ibrahim

Bernard Batubara

Saderi

Samsudin Adlawi

Tarmizi Rumahitam

Yopi Setia Umbara

Y.S. Agus Suseno

Bara Pattyradja

Asep Samboja

Arsyad Indardi

Bustan Basir Maras



:

Adapun sajak-sajak saya yang termaktub dalam buku tersebut adalah sajak berjudul "Mitos Kali" dan "Mitos Tangga".



Mitos Kali

sudah Dia siapkan rahim pada sepasang mata perempuan untuk nanti dibuahi oleh lelaki yang memanggul Janji maka siapapun telah mengerti ke mana harus mencari rindu paling basah yang tak pernah terjarah meski musim penghujan atau kemarau paling tajam sempat merajah langkah dan semak belukar pernah menitipkan ratusan duri ke telapakkaki sebab hutan tempat semua kembara terjadi telah mengerti bahwa dialah perempuan pertama terhukum memiliki rahim di sepasang mata dan akan ada lelaki pertama datang berkata akulah kekasihmu yang kau eram bayangnya di matamu dan aku akan membuahimu agar lahir Airmu menjadi kali yang senantiasa mengalir dan memanjangkan kembali bayang-bayangku


(2009)





Mitos Tangga

kepada langit kau bertanya bagaimana caranya pergi ke sana tak ada angin mau membantu menerbangkan dirimu kau terlalu berat seperti serbuk sari yang enggan lepas dari inangnya tak hendak dilayangkan ke padang lain agar di sana tumbuh juga bunga-bunga tak ada awan mau meminjamkan dirinya sebagai sayap-sayap karena kau akan mengawan menumpahkan hujan saja dari hari ke hari kau tetap bertanya bagaimana caranya sampai di tempatmu duhai Langit Yang Maha Biru lalu Dia menyuruh angin berbaris berundak-undak dan awan mengisi setiap rongga di selanya dan kau melangkah menaikinya dengan ragu yang begitu..


(2009)

2 Oktober 2009

Saat Ini Malam Begitu Dingin dan Bulan Sedang Purnama

Saat Ini Malam Begitu Dingin
dan Bulan Sedang Purnama


aku gugur dari matamu
dan kau berangin di telinga

Sajak saya lagi di Batam Pos

Batam Pos, Minggu 23 Agustus 2009 memuat sajak saya untuk ketiga kalinya. Kali ini sebuah sajak saja: Adegan Film: Burung Gereja

Fragmen Sajak Cinta, 4: Melihat Petani

Fragmen Sajak Cinta, 4: Melihat Petani

aku mengakarkan rindu
pada gembur tanah bakar
tempat sampah-sampah dapur
: luka-luka sisa, pedih-perih lama
yang tak pernah selesai
kau cuci
walau waktu menyabunimu
menyabuni matamu
menyabuni luka-duka itu
aku menyirami diri
dengan darah-airmata sendiri
dalam ragu
dalam diammu
aku mengelopakkan mimpi
pada jarak beratus depa ini
aku mendurikan engkau
dengan warna merah darah
seperti warna gambar bunga
di rencana-rencanaku
aku menggali tanah
di belakang rumah
aku ingin menumbuhkan
mu
menumbuhkan rindu

30 September 2009

Fragmen Sajak Cinta, 3: Duduk di Teras

Fragmen Sajak Cinta, 3: Duduk di Teras

malam-malam berkabut
seperti bulan-bulan sebelumnya
masih menyamarkan nafasmu
ke gemulai liuk asap
ke goyang daun-daun akasia

sudahkah aku menghirup
sedikit dari cuaca malam ini
untuk melegakan paru-paru
untuk mengembangkan kembali
dadaku
yang sudah kian lembek
dan layu

malam-malam berkabut
menyingsingkan gamang
menyusupkan degup
secukupnya ngiang
untuk telingaku
yang telah fasih
mendengar desis
bibirmu

september akan berakhir
sebab itu aku paham

kau tak akan datang

meski lewat deru udara
iring-iringan debu
di malam-malam berkabut

bulan-bulan berikutnya

Fragmen Sajak Cinta, 2 : Kiriman Saat Kembali ke Jogja

Fragmen Sajak Cinta, 2 : Kiriman Saat Kembali ke Jogja

satu kotak plastik kecil dengan brownies buatanmu
di dalamnya, aku tahu ada kata rindu
yang kau sembunyikan

entah di tubuhnya yang besar dan berwarna cokelat itu
atau di antara taburan parutan keju
yang tertidur di atasnya

kubiarkan 2 hari terletak di lemari pakaian, barangkali
ia akan menunjukkan dirinya sendiri
tapi tidak

sepertinya memang harus segera kumakan, mungkin saja
kata rindu itu sudah kau titipi pesan
agar jangan hadir

sebelum pecah dan lumat di dalam mulut dan perutku
atau barangkali ia tak ada di sana
karena tertinggal

di bagasi atau di pintu bandara tempat aku beranjak pergi
darimu

bisa kau kembalikan lewat telepon panjang malam ini
sayang?

Fragmen Sajak Cinta, 1 : Ketika Suatu Perpisahan

Fragmen Sajak Cinta, 1 : Ketika Suatu Perpisahan

aku adalah malam dingin
malam yang dingin
adalah hatimu
seperti juga pagi beku ini
mengeraskan ujung kuku-kuku
jari tanganku
di permukaannya ada basah
dari entah tangis siapa
semalam tadi
suaranya begitu asing
seasing kucing liar
melintas di jalan panjang
depan rumahku
ditemani bayang tiang lampu
dan angin yang redup- remang
seperti bibir yang sempat layu
di bibirku juga
malam tadi
   
.